Saturday, February 15, 2014

Chatting WhatsApp dengan Rangga A

9:14 15 Feb - Restu D Hapsari: Yang

Riwayat chat terlampir sebagai “Chatting WhatsApp dengan Rangga A.txt” file di email ini

Sunday, February 24, 2013

Sembilan jam dan selera humor Tuhan

Apalagi yang lebih menyedihkan dari hanya memiliki waktu dua jam untuk tidur malam? bagiku tak ada, setidaknya untuk hari itu. Sepertinya segala hal bertransformasi menjadi partikel - partikel yang memerintahkan otak untuk tetap diam di tempat tidur, menikmati oksigen - oksigen pagi untuk beremisi di dalam otak dan melahirkan zat tanpa nama yang akan segera berubah menjadi potongan - potongan gambar di alam mimpi. Rayuan mimpi di pagi hari jauh lebih dahsyat daripada rayuan mimpi di waktu malam, bisa membuat si pemimpi seolah terpisah raga dan jiwanya, raganya sudah terjaga sementara jiwanya menolak untuk bangun. Mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa aku lebih menyukai tidur pagi, entah karena mimpi atau karena aku sangat mencintai malam yang kesepian.

Pukul enam pagi aku bergegas pergi, Hari itu adalah hari penting bagi sahabatku. Aku sadar sekali jika waktu yang kumiliki tidaklah banyak, lima jam untuk sampai di tempat tujuan, dimana sahabatku akan berjalan bangga menghampiriku dengan menggunakan toga dan aku akan memberinya satu kaleng besar egg roll kesukaannya sebagai pengganti bunga yang cepat layu. Sudah kuhitung jarak dan waktu, setidaknya aku akan berada dalam empat jam waktu perjalanan. Untungnya aku sudah terbiasa membunuh waktu dengan melamun dalam waktu lama sehingga empat jam akan menjadi tidak terasa, buruknya perjalanan itu ternyata memakan waktu yang lebih banyak, tujuh jam. Ada perasaan bersalah menggebu dalam benakku, jelas rencanaku untuk menghadiri hari penting sahabatku gagal total. Rencanaku gagal namun itulah rencana Tuhan, Tuhan berencana untuk menggagalkan rencanaku hari ini dalam jebakan perjalanan tujuh jam untuk jarak yang tidak begitu jauh. Sahabatku yang lain menawarkan untuk menjemput kedatanganku, tiga puluh kilometer sebelum bus yang aku tumpangi berhenti di tempat pemberhentian terakhir aku memberinya kabar, kemudian dia membalas kabarku dengan "oke gue berangkat sekarang". Sesampainya di tempat pemberhentian bus terakhir aku menuju tempat dimana sahabatku akan menjemputku, sambil aku mengakumulasikan lelah yang sudah tak sabar untuk pecah, kupicingkan kedua mata untuk menemukan keberadaannya, dan ternyata dia belum disana. Aku masih malas menebak rencana Tuhan yang selanjutnya, seharusnya sahabatku ini sudah sampai terlebih dahulu karena jarak tempuh antara tempat tinggal dan terminal bus ini hanya kurang lebih lima belas menit. Rasa lelah yang aku akumulasikan tadi tidak jadi pecah, menggembung lagi bersamaan dengan kucuran peluh dan bunyi perut yang mengeluh. Hampir satu jam aku berdiri di depan sebuah mini market kecil di dekat terminal bus, kuhitung sudah lima pengemis mendatangiku setiap hampir sepuluh menit sekali, dan sahabatku belum juga datang. Rasa khawatir akan terjadinya sesuatu yang buruk mulai menyerang pikiranku, entah sudah berapa lama aku tak bisa mengandalkan firasatku yang kini tumpul, aku hanya dapat memanjatkan doa agar tidak ada hal buruk yang menimpa sahabat baik yang sudah berbaik hati menjemputku.

Aku perlahan mulai bosan menatapi layar ponselku yang kini menampilkan daya baterai yang tinggal satu bar, maka aku memutuskan untuk menggunakan keahlianku yang paling mumpuni untuk mengusir rasa bosan dan mengalihkan perasaan lelah yang sudah mulai kurang ajar karena hampir memukulku jatuh, keahlian itu melamun. Aku mulai menjabarkan lamunanku satu persatu dalam monolog - monolog tak terdengar, aku berbicara kepada diriku sendiri bahwa kini aku telah sampai di kota ini lagi. Entah ini kali keberapa aku menginjakkan kakiku disini, di kota yang belum rela aku tinggalkan sekaligus kota yang paling ingin aku tinggalkan, kota yang paling aku benci namun tetap sulit untuk kulupakan. Disini aku memulai segalanya dan hampir memutuskan untuk menyudahi segalanya pula, aku pernah merasa hidup dan mati disini, dan lucunya di kota ini juga aku telah merasa terlahir baru kembali. Aku pernah benar - benar merasakan satu rasa yang belum pernah kurasakan sebelum aku tinggal disini, jatuh cinta. Saat perasaan itu datang ingin sekali aku menyangkal sebuah judul lagu milik grup band efek rumah kaca, hei! Jatuh cinta itu tidak biasa saja. Aku tidak banyak jatuh cinta seumur hidupku, yang aku tahu baru dua kali aku merasakannya, dua - duanya di kota ini. Dua pria yang berbeda pernah mengisi hari - hariku yang hampir selalu datar disini, rasa untuk keduanya sangat berbeda, kadarnya juga jelas berbeda karena kadar rasa untuk yang satunya lebih mendominasi, yang satu adalah cinta berapi - api sementara yang lain adalah sayang yang tenang mengalir seperti air. Lucunya mereka berdua datang dan pergi berkali - kali secara bergantian, aku menyebutnya sebagai selera humor Tuhan. Saat sang api mulai perlahan membakar maka sang air akan datang memadamkannya, dan saat aku mulai menjadi terlalu dingin karena sang air mulai membeku dan mematikan segala indra perasa, sang api akan melelehkan bekunya dan membakar rasa itu lagi, begitu terus. Satu tahun lalu tepat di bulan ini, sang air sedang membasuh luka - luka bakarku. Dia adalah pereda rasa sakit kesukaanku, kami tak pernah memberi label 'pacaran' untuk sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman meski kami sama - sama dihanyutkan oleh perasaan. Sudah terlalu lama kami terhanyut dalam riak perasaan yang terlalu tenang, sehingga kami tenggelam dan akhirnya saling terpisah. Sang air pergi bagaikan riak sungai yang meninggalkan tempatnya entah kemana, mungkin ke laut. Hari ketiga di bulan agustus, hari dimana aku menginjak usiaku yang ke dua puluh dua tahun, sang api kembali dan mencoba menyulut lagi perasaan - perasaan yang pernah padam, aku tak kuasa menahan panasnya, aku memilih untuk ikut melebur bersama bara api yang ditawarkannya. Rasa itu, rasa itu masih tetap tak bisa kudefinisikan, api cinta itu tidak pernah benar - benar mati, justru aku dibelenggu. Aku membiarkan dia mengambil alih hidupku, mendominasinya. Aku tahu rasaku untuk sang api jauh lebih menyala sementara rasaku untuk sang air justru mengalir entah kemana, namun rasa untuk keduanya sudah terlalu tua. Pada akhirnya aku sudah terlalu lelah dibelenggu satu rasa yang membakar membara, sebelum diriku meleleh dan malah habis menjadi abu, aku memilih bangun dan mencari nyawa baru. Perlahan aku mulai merelakan apiku itu mencari bara - bara yang lain, meski aku jadi semakin dingin dan sepi, aku akan terus berpura - pura berani. Hingga akhirnya keberanian itu benar - benar menghampiri, aku sudah berdamai dengan sepi dan mulai terbiasa sendiri. Sudah tak ada lagi sang api apalagi sang air, aku akan selalu menyebut keduanya dalam doa dan berharap mereka benar - benar bahagia, yang satu akan menemukan bara sementara yang lain akan menemukan muara. Bagaimanapun juga mereka pernah membuatku merasa menjadi benar - benar manusia lewat sebuah rasa yang belum pernah kupunya sebelumnya, meski aku jadi harus merasakan perih luka dan seperti hilang nyawa dibuatnya. Bersama mereka aku sudah hidup dan mati berkali - kali, suatu saat rasaku mati oleh yang satu maka yang lain datang untuk menghidupkanku kembali, begitu terus silih berganti.

Hampir dua jam aku menunggu sahabatku disini, namun belum juga dia datang. Aku mengambil ponselku dan mencoba menghubunginya, dia menjawabnya "tunggu sebentar gue sedikit lagi sampai". Aku merasa konyol sekali, nyaris sembilan jam aku dijebak dalam sesuatu yang seharusnya hanya memakan waktu selama lima jam. Kepalaku mulai berputar sedikit - sedikit, kakiku mulai lelah menopang tubuhku. Aku seperti mengalami disorientasi konversi, mungkin akibat tidur yang hanya dua jam tadi malam dan rasa lelah yang menumpuk akibat hampir sembilan jam perjalanan yang belum juga sampai. Dari kejauhan aku melihat seseorang, siluetnya sudah tidak asing lagi untukku, namun semakin dekat aku sadar itu hanyalah sebuah ilusi. Aku memutuskan untuk membeli sebotol minuman segar untuk meredakan dahagaku, sambil meneguknya perlahan sesekali aku memejamkan mataku. Aku mendengar suara yang mendekat bersamaan dengan suara keras dari sebuah pintu mobil yang ditutup, lalu aku disapa oleh sebuah suara yang sudah lama terekam di otakku, " Restu.. " katanya. Aku berhenti meneguk minumanku, terpaku melihat sepasang mata yang sangat aku rindukan. Saat itu aku percaya bahwa Tuhan sedang bekerja menyatukan titik titik yang lama telah terputus, membuat segalanya terkoneksi sehingga orang menyebutnya sebuah kebetulan. Pertemuan yang sudah lama kunantikan, airku berdiri di hadapanku setelah lama tenang menghilang. Dia sedang mengantar temannya yang akan pulang ke rumah untuk membeli sebotol minuman, dan Tuhan mengaturku untuk tertahan disitu. Dia terlihat sangat baik, jauh lebih baik dari saat terakhir aku melihatnya membasuh luka - luka bakarku. Kami berbincang tidak lama, sebuah rasa yang bernama rindu lepas dari pancaran - pancaran mata. Seperti ada es batu yang membuat tulang - tulangku ngilu, telah lama aku bertanya kepada Tuhan " apa kabar airku? " dan Tuhan mengirim jawabannya sekarang, lewat sebuah kejutan kecil berupa sebuah pertemuan tanpa rencana. Aku mengakhiri percakapan kami dan memutuskan untuk pergi, dia mengucapkan sampai jumpa lagi dan berpesan agar aku selalu menjaga kesehatan, dia memberikanku sebuah senyuman. Aku berbalik badan dan memutuskan untuk menyimpan senyumannya di ingatanku baik - baik, aku tahu dia tak akan luruh. Ternyata inilah rencana Tuhan, sembilan jam aku ditahan dalam sebuah situasi yang membuat tubuhku lelah, sekejap hilang ketika air itu membasuh lelah. Aku berjalan cepat menjauhi airku yang telah menemukan muara, lagi - lagi aku terjebak dalam sebuah selera humor Tuhan yang tak terkalahkan, rasanya lucu sekaligus lega.

Tak lama kemudian sahabatku datang menjemput, aku pergi meninggalkan tempat pertemuan aku dan airku. Kini aku masih mencari sebuah rasa, rasa yang baru yang bukan berasal dari air ataupun api. Aku mengkilas balik kejadian hari ini, betapa Tuhan sangat berkuasa akan setiap pertemuan dan perpisahan. Tunggu sebentar, aku ingat siluet ilusi itu mengingatkanku pada sosok seseorang, sosok airku. Itukah firasat? Bukankah aku sudah tumpul. Tak ada yang lebih melelahkan dari sembilan jam perjalanan pendek yang tak kunjung sampai, namun tak ada yang mengalahkan selera humor Tuhan. Air telah menemukan muaranya, bagaimana denganmu api? Sudahkah kamu menemukan bara? Ah, is that you signing in?

Sunday, February 17, 2013

Cerita satu sore

Hari itu hari sabtu, hari dimana kebanyakan orang meminta kekasih - kekasihnya untuk bertemu, sementara yang lainnya memilih untuk berdiam memendam rindu. Aku, aku masih sama seperti hari - hari yang lalu, masih berjibaku dengan waktu demi sesuatu yang belum tertuju. Aku masih meraba masa lalu, kukira aku sudah berjalan maju namun nyatanya aku masih penuh ragu. Ketika itu aku masih terbelenggu, masih mencari titik paling perih dari serpihan - serpihan masa lalu, berharap itu dapat melukaiku kemudian rasa itu akan mulai membeku, hingga lama - lama mati terbujur kaku.

Aku berjalan dengan nafas yang sedikit memburu, aku sudah tak mau lagi memakai baju warna biru, mulai saat itu aku putuskan untuk menyembunyikan perasaanku yang mengharu biru. Tibalah aku di sebuah tempat baru, yang terasa sedikit asing bagiku. Aku datang dengan penuh rasa tidak tahu, namun tenang hatiku karena disana tak ada hantu, hantu masa lalu.

Sore itu aku merasa kembali baru, rasa yang sudah berkarat dan menggerogotiku seperti binatang pengerat itu tidak hadir sore itu. Diantara kerumunan manusia - manusia yang tidak pernah aku tahu, aku melihat cahaya itu.

Cahaya itu berasal dari sepasang mata yang terlihat tenang namun berapi - api, ketika aku mengalihkan pandanganku pada mata itu ada rasa hangat yang menjalar - jalar ke hati. Rasa itu bagaikan misteri, aku tak tahu kapan ia datang atau pergi.

Sepasang mata dan satu senyum miliknya sore itu, membuat lidahku terasa kelu, jantungku terasa lebih cepat berpacu, meski senyum itu bukan untukku. Sore itu hari sabtu, malam minggu. Sepasang mata dan senyum itu telah membantuku menemukan satu titik temu, bahwasannya aku tak perlu berperang dengan masa lalu. Karena akan selalu ada yang datang dan berlalu, disitu aku menemukanmu, satu yang lama kutunggu untuk membebaskanku dari hantu masa lalu dan memberikanku satu rasa yang baru. Meski aku tahu, kamu tidak akan pernah tahu.

About

My photo
Jakarta, Indonesia
My name is Restu Hapsari, let me tell you a story!